Wanita itu masih bersemangat disetiap paginya, seperti sudah menjadi hal yang lumrah jika melihat rumah mungil itu sudah cukup ramai dengan suara 5 oktavnya. Dia seperti mentari dipagi hari dan bulan di malam hari, tiada pernah terlihat lelah dari guratan wajahnya. Rumah mungil itupun selalu terasa hangat karenanya. Dia bagai ibu peri bagi anak-anaknya dan bidadari khayangan bagi suaminya. canda tawa selalu mengiringi di tiap harinya, bahagia ? mungkin kata itupun tidak cukup untuk menggambarkan suasana yang terjadi dirumah itu maupun disetiap hati para penghuninya.
setahun kemudian.....
aku bagai seekor anak kucing yang kehilangan arah, aku buta arah. Pagi, siang ataupun malam terlihat sama bagiku. Aku berjalan tanpa tujuan yang pasti. Semenjak kepergiannya, kebingungan selalu melanda di tiap harinya. Jika bukan karena janji pada diri sendiri untuknya bukan tidak mungkin untuk menyusulnya. Tanpa ku sadari detik disaat aku tahu dia pergi, topeng mulai terpasang di wajah ini. Aku menjadi gadis kuat sepertinya, selalu bersemangat dan ceria. Tanpa peduli akan luka yang terpendam. Akan terus ku tahan sakit ini hingga saat aku tak mampu lagi, topeng ini tak kan ku lepas. Demi dia, aku bertahan, sampai dia mengajak ku menemaninya, maka saat itu topeng ini pecah dan luka ini akan sembuh.