Sunday, July 14, 2013

diary 1

14 juli 2013, 23.00 WIB

Bukan maksud hati ingin mengeluh akan keadaan yang ada
Tapi ketika hati mulai berontak dan air mata mulai menetes
Terbesit keinginan untuk pergi yang jauh
Memulai kehidupan ku sendiri
Rasa sesak yang semakin menumpuk
Air mata yang mengalir tanpa di ingin
Ku anggap sebagai pertanda untuk ku berhenti bertahan
Dan mulai melangkah di jalan ku sendiri
Biarkan orang menganggap ku egois
Tapi hanya aku yang tahu apa yang ingin ku tuju
Dan demi siapa ini ku tuju
Aku harap ibu di sana dapat tersenyum percaya padaku
Tekad kuat dan hati yang tegar

Modal awal ku untuk memasuki dunia baru

Wednesday, June 26, 2013

cinta itu tetap menerimanya walau itu menyakitkan
cinta itu tetap merindu walau tak dirindukan
cinta itu yakin bahwa kamu mampu membahagiakannya
cinta tu percaya bahwa dia memang untuk mu
cinta itu setia walau sejenuh apapun

cinta itu bukan lah melepaskan atau dilepaskan
karena cinta itu hati terdalam
jauh didasar hati tidak akan pernah ada kata melepas ataupun dilepas

love is about trust,confidence and loyalty

Sunday, November 11, 2012

lalu dan kini

setahun yang lalu.....
Wanita itu masih bersemangat disetiap paginya, seperti sudah menjadi hal yang lumrah jika melihat rumah mungil itu sudah cukup ramai dengan suara 5 oktavnya. Dia seperti mentari dipagi hari dan bulan di malam hari, tiada pernah terlihat lelah dari guratan wajahnya. Rumah mungil itupun selalu terasa hangat karenanya. Dia bagai ibu peri bagi anak-anaknya dan bidadari khayangan bagi suaminya. canda tawa selalu mengiringi di tiap harinya, bahagia ?  mungkin kata itupun tidak cukup untuk menggambarkan suasana yang terjadi dirumah itu maupun disetiap hati para penghuninya.

setahun kemudian.....
aku bagai seekor anak kucing yang kehilangan arah, aku buta arah. Pagi, siang ataupun malam terlihat sama bagiku. Aku berjalan tanpa tujuan yang pasti. Semenjak kepergiannya, kebingungan selalu melanda di tiap harinya. Jika bukan karena janji pada diri sendiri untuknya bukan tidak mungkin untuk menyusulnya. Tanpa ku sadari detik disaat aku tahu dia pergi, topeng mulai terpasang di wajah ini. Aku menjadi gadis kuat sepertinya, selalu bersemangat dan ceria. Tanpa peduli akan luka yang terpendam. Akan terus ku tahan sakit ini hingga saat aku tak mampu lagi, topeng ini tak kan ku lepas. Demi dia, aku bertahan, sampai dia mengajak ku menemaninya, maka saat itu topeng ini pecah dan luka ini akan sembuh. 

Thursday, June 28, 2012

brain and heart

Lo pernah ga sih ngerasain yang namanya perang di dalam diri lo? ketika hati dan pikiran lo ga sejalan. Ketika apa yang lo ucapin ataupun lo lakuin itu ga sesuai sama hati lo. Ketika hati dan fikiran lo mulai berseteru tentang sesuatu hal yang menyangkut pilihan lo. Mungkin ini yang terkadang gue rasain, ketika gue dihadapin pada suatu pilihan apapun itu, secara otomatis hati dan pikiran gue langsung melist negatif atau positifnya dari pilihan tersebut. Mungkin terdengar bagus tapi ketika hasil keputusan akhir dimana hati dan pikiran gue  memiliki pendapat berbeda, it was complicated guys!! ibaratnya tuh ya, lo libur 2bulan trus gada kerjaan trus ngebapuk *curcol ga nyambung* forget it, back to the topic. Kalau gue udah dihadapin sama hal tadi, gue bisa diem bermenit-menit bahkan berjam-jam (tadinya malah mau berhari-hari tapi takut ngebapuk jadinya ga jadi*ga nyambung lagi guys!!!) cuma untuk nentuin gue harus ikut yang mana? hati gue atau pikiran gue. Takutnya kalau gue ikutin hati gue, pikiran gue nanti ngamuk trus gue jadi ga bisa mikir lagi trus masa depan gue terancam dan gue jadi bapuk atau kalau gue milih pikiran gue, takutnya hati gue nangis-nangis dipojokan trus gue dicap jadi orang ga berprikeHATIan!!!! so complicated kan!!!! Gue kadang suka heran kenapa bisa mereka memiliki pendapat yang berbeda padahal mereka sama-sama berada didalam diri gue, kadang gue ngerasa gagal mendidik mereka atau gue ngerasa "apa gue terlalu pilih kasih ya sama mereka?" sehingga mereka harus merumitkan diri gue,hidup gue,temen-temen gue,keluarga gue,kosan gue, pak iding corporation, tetangga gue, tetangga'a temen gue, tetangga'a tetangga gue. oh my god I'm going crazy !!!
lupakan tulisan diatas !
mungkin bener kata orang, kamu belum bisa mendamaikan dunia jika kamu belum bisa mendamaikan apa yang ada dalam diri kamu sendiri. Mungkin banyak yang mengalami perang batin ketika dihadapin pada suatu pilihan. tapi disitu lah seninya, kebijaksanaan kita diuji. Mungkin ada sebagian yang lebih memilih mengikuti kata hatinya dan ada sebagian juga yang lebih memilih mengikuti kata pikirannya, tapi jarang ada yang memilih mengikuti kata keduanya. menurut saya, hati dan pikiran itu satu kesatuan yang ada didalam tubuh kamu, yang sama-sama bertugas menjadi penasihat bagi kamu. Ketika kamu mampu menyatukan apa yang hati dan pikiran kamu katakan, insya allah ga kan ada rasa penyesalan yang tertinggal, karena pilihan yang kamu ambil sesuai dengan yang ada didalam diri kamu. sebelum kamu bijakasana dalam kehidupan diluar sana setidaknya mulailah berbijakasana dalam kehidupan didalam diri kamu.

Tuesday, May 29, 2012

REVIEW PUISI Denny JA "Minah tetap dipancung"


Minah adalah sesosok wanita lugu yang telah mempunyai seorang suami dan 1 orang anak. Kehidupan mereka bisa dibilang belum sejahtera, anaknya yang berumur 8 tahun belum menginjak bangku  sekolah, sedangkan suaminya belum menemukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Melihat keadaan keluarganya yang seperti itu, minah memutuskan untuk bekerja menjadi TKW di Arab Saudi dengan harapan dapat membantu ekonomi keluarga. Dari itu minah mulai merajut tekadnya bekerja sebagai TKW. Melihat banyak teman-temannya yang pulang dari bekerja sebagai pembantu di Negara orang berhasil meningkatkan ekonomi keluarga sehingga minah pun ingin bisa seperti itu. Setelah mendapatkan ijin dari suami dan berbekal uang dari hasil menggadai sawah ayahnya, minah pun ikut dalam pelatihan TKW dan hal-hal yang berkaitan dengan keberangkatannya nanti.
Akhirnya hari itu pun tiba, minah tiba di bandara Arab Saudi. Tak ada seorang teman pun menyambutnya disini, awalnya minah sempat ragu untuk lanjut melangkah tapi wajah sang suami,anaknya,orang tuanya dan sawah yang telah digadai demi dirinya mampu membuat tekad yang tadinya hampir runtuh menjadi kembali berdiri kokoh dihatinya. Hati Minah  menciut kala disambut majikannya yang dingin. Minah sampai dirumah majikannya yang luasnya hampir 20 kali lipat lebih luas dari rumahnya dikampung. Belum sempat minah melepas lelah sejenak, majikan telah memanggilnya untuk memberitahukan apa saja yang harus dilakukannya. Bersyukur, majikannya menyukai masakan minah dan segala pekerjaannya. Hari – hari di arab seperti bunga yang bermekaran dihalaman rumah, tidak pernah lupa untuk disiram seperti minah yang tidak pernah lupa untuk tetap merajut mimpinya disini. Minah selalu ingat apa yang diajarkan guru pesantrennya agar bersikap sopan dan bagaimana cara bertuturkata yang baik. Minah selalu tersenyum tapi sayang senyumnya disalah artikan oleh majikan prianya.
Setiap pagi minah selalu melaksanakan sholat Dhuha dan begitu pun dengan pagi ini. ketika semua pekerjaan telah diselesaikannya, minah beranjak untuk melaksanakan sholat dhuha. Baru saja hendak menggelar sajadah, majikan pria masuk ke dalam kamar dengan matanya menyalang menatap minah seperti sedang membayangkan apa yang ada dibalik sarung itu. Majikan pria itu menghampiri minah dan melakukan pelecehan terhadapnya, minah berusaha memberontak tapi majikannya sudah gelap mata. Minah tidak berdaya, dia telah dinodai oleh majikannya. Setelah melakukan perbuatan bejatnya itu, majikan pria itu melemparkan beberapa uang real kepada minah. Berkali-kali minah mengalami kejadian seperti ini, uang yang selalu dilemparkan majikannya setelah melakukan perbuatan itu pun telah terkumpul dalam sebuah kotak. Hati minah miris merasakannya, minah belum pernah merasakan bagaimana rasanya mendapatkan gaji pertama hasil kerjanya sebagai pembantu, minah belum pernah merasakan rasa bahagia ketika dia telah mengirimkan uang untuk keluarganya. Tapi nasib memang berkata lain, minah malah mendapatkan uang dari hasil perbuatan bejat majikan prianya. Sempat terpikir oleh minah untuk menggunakan uang kotor itu untuk dikirimkan ke kampungnya namun hati kecilnya berkata “jangan kau bohongi suami mu, jangan kau sekolahkan anakmu dengan uang si bejat itu “. Akhirnya minah membakar semua uang yang ada di dalam kotak itu, minah sadar dia harus bangkit, dia harus bisa melawan majikannya. Ketika tidak satu orang pun yang bisa menolong, Gusti Allah pasti ada selalu untuknya.
Minah mencari jalan dengan mengadu ke pada majikan perempuannya, tapi yang ia dapat malah siksaan dan tuduhan telah menggoda suami majikannya. Minah ingin melarikan diri, dan sempat terfikir untuk loncat saja dari lantai  3,tapi ia terlalu takut untuk melakukannya. Suatu malam, kejadian itu terulang lagi, majikan pria menyelinap ke kamarya sambil membawa sebuah pisau di tangannya. Saat majikannya mulai melakukan perbuatan bejatnya, minah melakukan perlawanan. Pisau yang dipegang oleh majikannya, secepat kilat direbut oleh minah dan ditancapkan di perut majikannya, majikannya pun meninggal saat itu juga. Niat ingin melindungi dirinya malah membawanya ke masalah yang jauh lebih rumit. Malam itu juga semua mimpi yang dirajut sirna begitu saja ketika minah ditangkap polisi dengan tuduhan pembunuhan. Minah tidak tahu jika hukum di arab berlaku “ nyawa dibayar nyawa”. Minah dijatuhi hukuman pancung oleh pengadilan, minah hanya bisa pasrah menerima hukuman ini.    
Seorang pengacara dikirim pemerintah Indonesia untuk untuk membantunya. Minah juga mendengar banyak rakyat membelanya. Pak Mentri meyebutnya pahlawan devisa tapi itu pun tak cukup untuk mampu membebaskannya dari hukuman pancung. Semua sudah terlambat. kepada pengacara, minah menuliskan koronologis peristiwa yang dialaminya dalam melindungi kehormatannya. Setidaknya minah dapat memberikan pengalamannya kepada rakyat Indonesia sehingga tidak akan ada lagi yang mengalami kejadian seperti dirinya. Malam sebelum dilaksanakannya hukuman pancung, minah terus berdzikir sambil membayangkan kisah bahagianya dikampung dulu saat masih berkumpul dengan suami dan anakya. Minah membayangkan suami dan anaknya datang menghampirinya dan mebisikkan padanya “ Aminah, betapa aku bangga padamu. Kau berjuang untuk keluarga,membela kehormatan diri. Guru ngaji di pesantren tidak akan menyalahkanmu, kau akan tetap selalu ada dihatiku dan dihati anak kita aisyah. Minah mencoba untuk memeluk bayangan suami dan anaknya sambil tersenyum. Senyuman terakhir minah.

Thursday, April 26, 2012

bad dream

"mother how are you today? here isi note from your daughter. with me everything is ok. mother how are you today?". mother how are you today by maywood.

Semua tentangmu,masih tercatat dengan jelas dipikiranku
Semua kenangan denganmu, masih jelas terasa hingga detik ini
bahkan aku masih menyangkal ketidakberadaanmu hingga saat ini
Aku tidak menangis, air mata ini tidak tumpah saat melihatmu pergi
semua orang bilang aku tegar karena itu
tapi kau pasti tau, bagaimana hancurnya semua yang ada dalam diriku saat itu
bahkan sistem otak ku menyangkal semua ini
aku tetap mengikuti alur ini, melihatmu pergi menjauh 
berharap ini hanya mimpi
dan ketika pagi menyapa, aku masih bisa mendengar kau bersenandung 
aku terus menunggu hingga ada yang membangunkanku
semua orang menangis ketika kau pergi
dan aku hanya membisu dalam diam ku
hanya seulas senyum yang ku berikan kepada mereka
karena aku tau ini hanyalah mimpi
namun,
mengapa hingga pagi menyambutpun
aku belum terbangun dari mimpi ini
kemana mereka, kenapa tidak ada yang membangunkanku?
aku melihat wajah mereka yang masih diliputi kesedihan
aku melihat setiap sudut ruangan ini
berharap bisa menemukan senyumanmu di pagi ini
tapi kau tiada, kau tak ada dimanapun
yang terlihat hanyalah kesedihan disini
aku ingin bangun dari mimpi ini
dan segera bertemu dengan mu
kenapa sampai sekarang aku masi disini
ini mimpi yang terlalu lama
aku kesal,marah,dan aku memohon
bangunkan aku dari mimpi ini
bangunkan aku segera
aku menangis, aku takut aku terjebak dalam mimpi ini
dan aku tidak bisa bertemu denganmu lagi
air mata ini terus mengalir, tubuhku bergetar menahan ketakutan ini
kau benar-benar tiada disini
aku ingin tidur, aku ingin bermimpi
mimpi dimana ada kau disana
ibu.......

Friday, April 20, 2012

no tittle


Aku benci keramaian tapi aku lebih membenci kesepian
Aku terasing dengan sifat yang ku pendam.
Mencoba melalui semua sendiri walau kekuatanku telah mencapai batas maksimal
Namun aku terus memaksa untuk terus berjalan sendiri
Segala cara ku tempuh untuk menghapus memori menyakitkan
Berbohong pada mereka, berbohong pada diriku sendiri
Saat aku mengatakan “aku baik-baik saja”
Disaat itulah aku menangis
Saat aku bertindak seperti aku bahagia
Disaat itulah aku merasa terpuruk
Disaat semua orang iri dengan kehidupan ku yang bahagia menurut mereka
Aku merasa lebih sakit dengan kehidupan seperti ini
Aku seperti bulan yang memamerkan sinar mentari saat malam
Terlihat indah dan melukiskan kebahagiaan
Namun, sesungguhnya tidak seindah seperti yang terlihat
Aku terus berjalan walau kaki ini lelah melangkah
Aku terus bertahan walau hati ini telah teracun
Dan akan terus mencoba melupakan kesakitan ini
walau memory ini memaksa untuk menyimpan
Untuk kisah yang akupun tak tahu alurnya.