Minah adalah sesosok wanita lugu yang
telah mempunyai seorang suami dan 1 orang anak. Kehidupan mereka bisa dibilang
belum sejahtera, anaknya yang berumur 8 tahun belum menginjak bangku sekolah, sedangkan suaminya belum menemukan
pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Melihat keadaan keluarganya
yang seperti itu, minah memutuskan untuk bekerja menjadi TKW di Arab Saudi
dengan harapan dapat membantu ekonomi keluarga. Dari itu minah mulai merajut
tekadnya bekerja sebagai TKW. Melihat banyak teman-temannya yang pulang dari
bekerja sebagai pembantu di Negara orang berhasil meningkatkan ekonomi keluarga
sehingga minah pun ingin bisa seperti itu. Setelah mendapatkan ijin dari suami
dan berbekal uang dari hasil menggadai sawah ayahnya, minah pun ikut dalam
pelatihan TKW dan hal-hal yang berkaitan dengan keberangkatannya nanti.
Akhirnya hari itu pun tiba, minah tiba
di bandara Arab Saudi. Tak ada seorang teman pun menyambutnya disini, awalnya
minah sempat ragu untuk lanjut melangkah tapi wajah sang suami,anaknya,orang
tuanya dan sawah yang telah digadai demi dirinya mampu membuat tekad yang
tadinya hampir runtuh menjadi kembali berdiri kokoh dihatinya. Hati Minah menciut kala disambut majikannya yang dingin. Minah
sampai dirumah majikannya yang luasnya hampir 20 kali lipat lebih luas dari
rumahnya dikampung. Belum sempat minah melepas lelah sejenak, majikan telah
memanggilnya untuk memberitahukan apa saja yang harus dilakukannya. Bersyukur,
majikannya menyukai masakan minah dan segala pekerjaannya. Hari – hari di arab
seperti bunga yang bermekaran dihalaman rumah, tidak pernah lupa untuk disiram
seperti minah yang tidak pernah lupa untuk tetap merajut mimpinya disini. Minah
selalu ingat apa yang diajarkan guru pesantrennya agar bersikap sopan dan
bagaimana cara bertuturkata yang baik. Minah selalu tersenyum tapi sayang
senyumnya disalah artikan oleh majikan prianya.
Setiap pagi minah selalu melaksanakan
sholat Dhuha dan begitu pun dengan pagi ini. ketika semua pekerjaan telah
diselesaikannya, minah beranjak untuk melaksanakan sholat dhuha. Baru saja
hendak menggelar sajadah, majikan pria masuk ke dalam kamar dengan matanya
menyalang menatap minah seperti sedang membayangkan apa yang ada dibalik sarung
itu. Majikan pria itu menghampiri minah dan melakukan pelecehan terhadapnya,
minah berusaha memberontak tapi majikannya sudah gelap mata. Minah tidak
berdaya, dia telah dinodai oleh majikannya. Setelah melakukan perbuatan bejatnya
itu, majikan pria itu melemparkan beberapa uang real kepada minah. Berkali-kali
minah mengalami kejadian seperti ini, uang yang selalu dilemparkan majikannya
setelah melakukan perbuatan itu pun telah terkumpul dalam sebuah kotak. Hati
minah miris merasakannya, minah belum pernah merasakan bagaimana rasanya
mendapatkan gaji pertama hasil kerjanya sebagai pembantu, minah belum pernah
merasakan rasa bahagia ketika dia telah mengirimkan uang untuk keluarganya. Tapi
nasib memang berkata lain, minah malah mendapatkan uang dari hasil perbuatan
bejat majikan prianya. Sempat terpikir oleh minah untuk menggunakan uang kotor
itu untuk dikirimkan ke kampungnya namun hati kecilnya berkata “jangan kau
bohongi suami mu, jangan kau sekolahkan anakmu dengan uang si bejat itu “. Akhirnya
minah membakar semua uang yang ada di dalam kotak itu, minah sadar dia harus
bangkit, dia harus bisa melawan majikannya. Ketika tidak satu orang pun yang
bisa menolong, Gusti Allah pasti ada selalu untuknya.
Minah mencari jalan dengan mengadu ke
pada majikan perempuannya, tapi yang ia dapat malah siksaan dan tuduhan telah
menggoda suami majikannya. Minah ingin melarikan diri, dan sempat terfikir
untuk loncat saja dari lantai 3,tapi ia
terlalu takut untuk melakukannya. Suatu malam, kejadian itu terulang lagi,
majikan pria menyelinap ke kamarya sambil membawa sebuah pisau di tangannya. Saat
majikannya mulai melakukan perbuatan bejatnya, minah melakukan perlawanan. Pisau
yang dipegang oleh majikannya, secepat kilat direbut oleh minah dan ditancapkan
di perut majikannya, majikannya pun meninggal saat itu juga. Niat ingin
melindungi dirinya malah membawanya ke masalah yang jauh lebih rumit. Malam itu
juga semua mimpi yang dirajut sirna begitu saja ketika minah ditangkap polisi
dengan tuduhan pembunuhan. Minah tidak tahu jika hukum di arab berlaku “ nyawa
dibayar nyawa”. Minah dijatuhi hukuman pancung oleh pengadilan, minah hanya
bisa pasrah menerima hukuman ini.
Seorang pengacara dikirim pemerintah Indonesia
untuk untuk membantunya. Minah juga mendengar banyak rakyat membelanya. Pak
Mentri meyebutnya pahlawan devisa tapi itu pun tak cukup untuk mampu
membebaskannya dari hukuman pancung. Semua sudah terlambat. kepada pengacara,
minah menuliskan koronologis peristiwa yang dialaminya dalam melindungi
kehormatannya. Setidaknya minah dapat memberikan pengalamannya kepada rakyat Indonesia
sehingga tidak akan ada lagi yang mengalami kejadian seperti dirinya. Malam sebelum
dilaksanakannya hukuman pancung, minah terus berdzikir sambil membayangkan
kisah bahagianya dikampung dulu saat masih berkumpul dengan suami dan anakya. Minah
membayangkan suami dan anaknya datang menghampirinya dan mebisikkan padanya “ Aminah,
betapa aku bangga padamu. Kau berjuang untuk keluarga,membela kehormatan diri. Guru
ngaji di pesantren tidak akan menyalahkanmu, kau akan tetap selalu ada dihatiku
dan dihati anak kita aisyah. Minah mencoba untuk memeluk bayangan suami dan anaknya
sambil tersenyum. Senyuman terakhir minah.