Tuesday, May 29, 2012

REVIEW PUISI Denny JA "Minah tetap dipancung"


Minah adalah sesosok wanita lugu yang telah mempunyai seorang suami dan 1 orang anak. Kehidupan mereka bisa dibilang belum sejahtera, anaknya yang berumur 8 tahun belum menginjak bangku  sekolah, sedangkan suaminya belum menemukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Melihat keadaan keluarganya yang seperti itu, minah memutuskan untuk bekerja menjadi TKW di Arab Saudi dengan harapan dapat membantu ekonomi keluarga. Dari itu minah mulai merajut tekadnya bekerja sebagai TKW. Melihat banyak teman-temannya yang pulang dari bekerja sebagai pembantu di Negara orang berhasil meningkatkan ekonomi keluarga sehingga minah pun ingin bisa seperti itu. Setelah mendapatkan ijin dari suami dan berbekal uang dari hasil menggadai sawah ayahnya, minah pun ikut dalam pelatihan TKW dan hal-hal yang berkaitan dengan keberangkatannya nanti.
Akhirnya hari itu pun tiba, minah tiba di bandara Arab Saudi. Tak ada seorang teman pun menyambutnya disini, awalnya minah sempat ragu untuk lanjut melangkah tapi wajah sang suami,anaknya,orang tuanya dan sawah yang telah digadai demi dirinya mampu membuat tekad yang tadinya hampir runtuh menjadi kembali berdiri kokoh dihatinya. Hati Minah  menciut kala disambut majikannya yang dingin. Minah sampai dirumah majikannya yang luasnya hampir 20 kali lipat lebih luas dari rumahnya dikampung. Belum sempat minah melepas lelah sejenak, majikan telah memanggilnya untuk memberitahukan apa saja yang harus dilakukannya. Bersyukur, majikannya menyukai masakan minah dan segala pekerjaannya. Hari – hari di arab seperti bunga yang bermekaran dihalaman rumah, tidak pernah lupa untuk disiram seperti minah yang tidak pernah lupa untuk tetap merajut mimpinya disini. Minah selalu ingat apa yang diajarkan guru pesantrennya agar bersikap sopan dan bagaimana cara bertuturkata yang baik. Minah selalu tersenyum tapi sayang senyumnya disalah artikan oleh majikan prianya.
Setiap pagi minah selalu melaksanakan sholat Dhuha dan begitu pun dengan pagi ini. ketika semua pekerjaan telah diselesaikannya, minah beranjak untuk melaksanakan sholat dhuha. Baru saja hendak menggelar sajadah, majikan pria masuk ke dalam kamar dengan matanya menyalang menatap minah seperti sedang membayangkan apa yang ada dibalik sarung itu. Majikan pria itu menghampiri minah dan melakukan pelecehan terhadapnya, minah berusaha memberontak tapi majikannya sudah gelap mata. Minah tidak berdaya, dia telah dinodai oleh majikannya. Setelah melakukan perbuatan bejatnya itu, majikan pria itu melemparkan beberapa uang real kepada minah. Berkali-kali minah mengalami kejadian seperti ini, uang yang selalu dilemparkan majikannya setelah melakukan perbuatan itu pun telah terkumpul dalam sebuah kotak. Hati minah miris merasakannya, minah belum pernah merasakan bagaimana rasanya mendapatkan gaji pertama hasil kerjanya sebagai pembantu, minah belum pernah merasakan rasa bahagia ketika dia telah mengirimkan uang untuk keluarganya. Tapi nasib memang berkata lain, minah malah mendapatkan uang dari hasil perbuatan bejat majikan prianya. Sempat terpikir oleh minah untuk menggunakan uang kotor itu untuk dikirimkan ke kampungnya namun hati kecilnya berkata “jangan kau bohongi suami mu, jangan kau sekolahkan anakmu dengan uang si bejat itu “. Akhirnya minah membakar semua uang yang ada di dalam kotak itu, minah sadar dia harus bangkit, dia harus bisa melawan majikannya. Ketika tidak satu orang pun yang bisa menolong, Gusti Allah pasti ada selalu untuknya.
Minah mencari jalan dengan mengadu ke pada majikan perempuannya, tapi yang ia dapat malah siksaan dan tuduhan telah menggoda suami majikannya. Minah ingin melarikan diri, dan sempat terfikir untuk loncat saja dari lantai  3,tapi ia terlalu takut untuk melakukannya. Suatu malam, kejadian itu terulang lagi, majikan pria menyelinap ke kamarya sambil membawa sebuah pisau di tangannya. Saat majikannya mulai melakukan perbuatan bejatnya, minah melakukan perlawanan. Pisau yang dipegang oleh majikannya, secepat kilat direbut oleh minah dan ditancapkan di perut majikannya, majikannya pun meninggal saat itu juga. Niat ingin melindungi dirinya malah membawanya ke masalah yang jauh lebih rumit. Malam itu juga semua mimpi yang dirajut sirna begitu saja ketika minah ditangkap polisi dengan tuduhan pembunuhan. Minah tidak tahu jika hukum di arab berlaku “ nyawa dibayar nyawa”. Minah dijatuhi hukuman pancung oleh pengadilan, minah hanya bisa pasrah menerima hukuman ini.    
Seorang pengacara dikirim pemerintah Indonesia untuk untuk membantunya. Minah juga mendengar banyak rakyat membelanya. Pak Mentri meyebutnya pahlawan devisa tapi itu pun tak cukup untuk mampu membebaskannya dari hukuman pancung. Semua sudah terlambat. kepada pengacara, minah menuliskan koronologis peristiwa yang dialaminya dalam melindungi kehormatannya. Setidaknya minah dapat memberikan pengalamannya kepada rakyat Indonesia sehingga tidak akan ada lagi yang mengalami kejadian seperti dirinya. Malam sebelum dilaksanakannya hukuman pancung, minah terus berdzikir sambil membayangkan kisah bahagianya dikampung dulu saat masih berkumpul dengan suami dan anakya. Minah membayangkan suami dan anaknya datang menghampirinya dan mebisikkan padanya “ Aminah, betapa aku bangga padamu. Kau berjuang untuk keluarga,membela kehormatan diri. Guru ngaji di pesantren tidak akan menyalahkanmu, kau akan tetap selalu ada dihatiku dan dihati anak kita aisyah. Minah mencoba untuk memeluk bayangan suami dan anaknya sambil tersenyum. Senyuman terakhir minah.

No comments:

Post a Comment